Industri cold storage menjadi salah satu bagian penting dalam rantai pasok modern, terutama untuk menyimpan dan mendistribusikan produk yang membutuhkan pengendalian suhu seperti makanan beku, daging, ikan, seafood, produk susu, bahan pangan, hingga produk farmasi tertentu.
Di balik kebutuhan menjaga produk tetap dalam kondisi optimal, terdapat tantangan lain yang tidak kalah penting, yaitu keselamatan dan kesehatan pekerja di area cold storage.
Bekerja di ruangan bersuhu rendah bukan sekadar masalah merasa kedinginan. Paparan suhu dingin dalam waktu tertentu dapat menyebabkan cold stress, menurunkan kemampuan fisik dan konsentrasi, serta meningkatkan risiko kecelakaan kerja. NIOSH menyebut paparan lingkungan dingin dapat menyebabkan gangguan seperti hipotermia, frostbite, trench foot, dan chilblains.
Lantas, seberapa aware industri cold storage di Indonesia terhadap keselamatan pekerjanya?
Cold storage adalah fasilitas penyimpanan yang menggunakan sistem pengendalian suhu untuk menjaga kualitas dan masa simpan produk tertentu.
Cold storage banyak digunakan dalam industri:
Dalam operasionalnya, pekerja dapat melakukan berbagai aktivitas, mulai dari receiving barang, loading dan unloading, penyimpanan, picking, pengecekan stok, pengoperasian forklift, hingga maintenance sistem pendingin.
Aktivitas tersebut dapat dilakukan pada suhu yang berbeda-beda, mulai dari area chiller hingga freezer dengan suhu jauh di bawah titik beku.
Berbeda dengan gudang biasa, cold storage mempunyai karakteristik lingkungan kerja yang ekstrem.
Penelitian pada area cold storage dan anteeroom di PT Hijrah Pangan Logistik menemukan adanya beberapa aktivitas kerja dengan tingkat risiko extreme dan high. Penelitian tersebut mengidentifikasi empat aktivitas berbahaya di area cold storage dan tiga aktivitas di anteeroom.
Artinya, cold storage bukan hanya tempat penyimpanan barang, tetapi juga merupakan lingkungan kerja yang membutuhkan pengendalian risiko secara serius.
Beberapa risiko utamanya adalah:
Paparan suhu rendah dapat membuat tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk menghasilkan panas.
Kondisi tersebut dikenal sebagai cold stress.
Jika tidak dikendalikan, pekerja dapat mengalami:
NIOSH juga menjelaskan bahwa cold stress dapat memengaruhi kemampuan berpikir dan bergerak sehingga pada kondisi tertentu dapat meningkatkan risiko cedera maupun kecelakaan.
Area cold storage dapat memiliki kondisi lantai yang basah, licin, atau bahkan mengalami pembentukan es.
Ketika pekerja harus bergerak cepat sambil membawa barang, risiko slip, trip, and fall menjadi semakin besar.
Karena itu, desain lantai, housekeeping, pencahayaan, footwear, dan prosedur kerja harus menjadi bagian dari sistem K3.
Cold storage biasanya menggunakan forklift atau equipment material handling untuk memindahkan pallet.
Interaksi antara:
pekerja + forklift + pallet + rak penyimpanan
dapat menimbulkan risiko kecelakaan apabila tidak dikendalikan dengan baik.
Beberapa risiko yang dapat muncul antara lain:
Penelitian pada cold storage PT Hijrah Pangan Logistik juga merekomendasikan penggunaan operator forklift yang kompeten sebagai salah satu pengendalian risiko.
Ini merupakan pertanyaan yang menarik.
Tidak tersedia statistik nasional yang cukup representatif untuk menyatakan bahwa sekian persen industri cold storage di Indonesia sudah sadar atau menerapkan K3 secara optimal.
Namun, terdapat beberapa indikasi bahwa awareness terhadap keselamatan kerja di cold storage mulai menjadi perhatian yang lebih serius.
Salah satu buktinya adalah munculnya penelitian khusus mengenai HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control) pada area cold storage di Indonesia. Penelitian tersebut tidak hanya mengidentifikasi bahaya suhu dingin, tetapi juga melihat aktivitas pekerja, peralatan, serta pengendalian risiko.
Penelitian lain terhadap cold storage 2.000 ton milik PT Perikanan Indonesia juga menunjukkan bahwa cold storage merupakan area kerja dengan kondisi ekstrem dan menyoroti pentingnya SOP untuk mengurangi peluang kecelakaan maupun penyakit akibat kerja.
Hal ini menunjukkan adanya pergeseran cara pandang.
Dulu, perhatian cold storage mungkin lebih banyak tertuju pada:
“Bagaimana produk tetap beku dan kualitasnya terjaga?”
Kini pertanyaannya mulai berkembang menjadi:
“Bagaimana produk tetap terjaga tanpa mengorbankan keselamatan orang yang bekerja di dalamnya?”
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap keselamatan pekerja selesai setelah perusahaan memberikan APD.
Padahal, APD merupakan salah satu lapisan pengendalian risiko, bukan satu-satunya solusi.
NIOSH merekomendasikan pendekatan yang lebih menyeluruh, termasuk pengendalian teknis, pengaturan waktu kerja dan istirahat, pelatihan, pemantauan pekerja, serta penggunaan perlengkapan yang sesuai.
Untuk cold storage, perusahaan dapat menerapkan beberapa langkah berikut.
Pekerja cold storage membutuhkan perlindungan yang sesuai dengan kondisi lingkungan.
Contohnya:
Sarung tangan menjadi sangat penting karena tangan merupakan salah satu bagian tubuh yang berinteraksi langsung dengan barang, rak, pallet maupun peralatan.
Pekerja tidak seharusnya terus-menerus berada di dalam ruangan bersuhu ekstrem tanpa pengaturan waktu.
Perusahaan dapat melakukan:
NIOSH merekomendasikan penggunaan relief workers, pengaturan jadwal kerja/istirahat, area hangat untuk break, serta pemantauan pekerja yang berisiko mengalami cold stress.
Industri cold storage di Indonesia memiliki tantangan K3 yang cukup spesifik, terutama karena pekerja dapat terpapar suhu rendah, bekerja dengan material handling equipment, beraktivitas di area yang berpotensi licin, serta menghadapi risiko operasional lainnya.
Belum terdapat data nasional yang cukup kuat untuk menyatakan persentase industri cold storage yang sudah aware terhadap keselamatan pekerja. Namun, adanya penelitian dan penerapan pendekatan seperti HIRARC, SOP, APD, kompetensi operator, serta training cold stress menunjukkan bahwa aspek keselamatan mulai mendapatkan perhatian yang lebih terstruktur.
Ke depan, awareness K3 di industri cold storage sebaiknya tidak berhenti pada penggunaan APD.
Perusahaan perlu membangun safety culture melalui kombinasi:
Risk Assessment + SOP + APD + Training + Monitoring + Technology.
Karena pada akhirnya, menjaga suhu produk tetap rendah tidak boleh membuat perhatian terhadap keselamatan manusia ikut menjadi rendah.
National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). (2026). Cold and Work: Types, Causes, Preparation. Centers for Disease Control and Prevention.
National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). (2019). Preventing Cold-related Illness, Injury & Death among Workers. CDC/NIOSH Publication No. 2019-113.
National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). (2010). NIOSH Fast Facts: Protecting Yourself from Cold Stress. CDC/NIOSH Publication No. 2010-115.
Williams, W. J., & Cichowicz, J. K. (2021). The Physiological Response of Working in Cold Environments and how your PPE can Help. NIOSH Science Bulletin.
+021 898 40277
Jl. Meranti 1 No.2, Sukaresmi, Cikarang Selatan, Bekasi Regency, West Java 17530
Jalan Angsana 3, Blok AE No 31-32 RT, 000 RW, 000, Sukaresmi, Cikarang Selatan, Kab. Bekasi, Jawa Barat
Jl. Angsana 3, Blok AE no 31 – 32, Delta Silicon, Cikarang.
Jl. Kw. Industri Tunas 2 Blok 6C, Batam Kepulauan Riau 29462
Jl. Meranti 1 No.2, Sukaresmi, Cikarang Selatan, Bekasi Regency, West Java 17530 (021) 89840277
Jl. Meranti 1 No.2, Sukaresmi, Cikarang Selatan, Bekasi Regency, West Java 17530 (021) 89840277
Have any questions for us?
Feel free to contact us!